Jumat, 10 Februari 2017

Ice Breaking Dalam Kampanye Keselamatan Jalan



Dalam posting ini akan dibahas tentang ice breaking. Salah satu teknik penting pendukung kesuksesan presentasi yang perlu diketahui oleh setiap presenter.Ice breaking, secara sederhana berarti memecah kebekuan. Dalam arti yang lebih luas ice breaking adalah suatu aktivitas di dalam kegiatan yang dirancang untuk mencairkan suasana tegang, bosan, dan jenuh menjadi menyenangkan sehingga audiens menjadi bergairah kembali untuk mengikuti kegiatan yang dijalani.

Dalam upaya peningkatan keselamatan jalan pada aspek perilaku pengguna jalan salah satunya dengan cara kampanye keselamatan jalan sebagaimana yang telah tertuang pada Instruksi Presiden RI Nomor 4 Tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan “Pilar ke - 4 PERILAKU PENGGUNA JALAN YANG BERKESELAMATAN, YG FOKUS PADA Penddikan formal keselamatan jalan Kampanye keselamatan jalan”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, kampanye diartikan sebagai gerakan atau tindakan serentak untuk melawan, mengadakan aksi, mengubah keadaan, mengubah perilaku dan lain-lain (Lukman; 1996: 437).

Kegiatan kampanye apakah itu di dalam kelas, di acara seminar atau di tempat pelatihan ada kemungkinan-kemungkinan di mana audiens tidak tertarik, tidak bergairah, merasa jenuh dan bosan dengan kegiatan yang dilakukan. Jika sudah begini, informasi yang ingin disampaikan tidak akan maksimal manfaatnya. Dalam keadaan seperti inilah ice breaking diperlukan.

Ice breaking selain dapat membangun suasana yang membosankan menjadi menyenangkan juga dapat meningkatkan perhatian audiens, antusias dan gairah audiens. Karena itulah ice breaking tidak hanya digunakan untuk mencairkan suasana beku, namun juga sering digunakan melibatkan audiens secara fisik maupun mental, membangun hubungan antara presenter dengan audiens, dan audiens satu dengan audiens lainnya.

Ice Breaking,  Apa Saja Bentuknya?
Banyak orang berpikir ice breaking identik dengan lelucon, padahal ice breking memiliki bentuk yang bermacam-macam, tidak hanya  lelucon. Berikut adalah beberapa bentuk ice breaking yang perlu Anda ketahui.
1. Lelucon atau intermozo
Lelucon adalah bentuk pemecah kebekukan yang paling populer di kalangan banyak orang. Namun juga bentuk pemecah kebekuan yang paling sulit dilakukan dan cukup berbahaya untuk dilakukan. Mengapa?
Karena untuk bisa melucu itu tidak mudah, apalagi bagi orang-orang yang tidak memiliki sense of humor yang tinggi. Coba Anda bayangkan, Anda sudah susah payah melucu tapi audiens tidak tertawa? Bagaimana perasaan Anda? Sarannya hati-hati menggunakannya.
2. Games atau permainan
Bentuk yang kedua adalah games atau permainan.
Games saat ini juga menjadi alternatif yang sering digunakan oleh para presenter, guru, dosen, pelatih dan pembicara untuk memecah kebekuan dan membuat suasana presentasi menjadi menyenangkan.
Namun begitu saat Anda memilih games sebagai cara untuk memecah kebekuan, atau membuat suasana presentasi menjadi menyenangkan, pastikan games yang Anda gunakan tidak terlalu umum, sehingga audiens lebih tertantang untuk melakukan dan lebih antusias untuk mengikuti. Dalam hal ini kreativitas Anda pribadi dan referensi yang banyak akan cukup menolong Anda.
3. Lagu atau nyanyian yang disertai gerak tubuh
Bentuk yang ketiga adalah nyanyian atau lagu yang disertai gerak tubuh. Ini juga merupakan bentuk yang banyak digunakan.
Anda bisa memutar lagu, kemudian mengajak audiens bernyanyi atau bergerak bersama-sama. Bahkan jika Anda kreatif Anda bisa membuat gerakan atau merancang koreo yang mendukung nyanyian atau lagu yang kemudian Anda ajak audiens bergerak mengikuti gerakan Anda.
Itulah tiga bentuk pemecah kebekuan yang perlu Anda ketahui. Dari tiga bentuk di atas, lelucon adalah bentuk pemecah kebekuan yang dapat dilakukan secara spontan maupun disiapkan, tapi untuk dua yang lain perlu dipersiapkan, sangat sulit dilakukan secara spontan.

Pada contoh pembahasan ice breaking dalam kegiatan kampanye keselamatan jalan di SMK Muhammadiyah Kabupaten Tegal, sebagai presenter yaitu taruna taruni Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan menggunakan bentuk ice breaking yaitu games atau permainan.

Bagaimana menggunakan ice breaking dengan benar?
Supaya Anda dapat menggunakan ice breaking dengan efektik dan benar-benar mampu memecahkan kebekukan berikut adalah beberapa saran yang bisa Anda lakukan.
1. Ice breaking butuh disiapkan
Sebelum Anda memutuskan bentuk pemecah kebekuan yang akan Anda gunakan, pastikan Anda melakukan persiapan untuk melakukannya.
Anda harus memulainya dengan memilih bentuk yang paling tepat dan Anda kuasai. Tidak hanya memilih tapi Anda juga harus bepikir relevansi dari bentuk pemecah kebekuan dengan topik presentasi Anda. Ini adalah saran terbaik, jika Anda mau bekerja keras saya yakin Anda bisa menemukan bentuk yang paling tepat untuk Anda gunakan.
2. Ice braking butuh direncanakan
Apa pun  bentuk yang Anda gunakan untuk memecah kebekukan semua itu butuh perencanaan, Anda harus merencakan kapan dan di mana itu Anda gunakan dalam presentasi Anda. Rasanya sangat sulit, jika Anda tiba-tiba berimprovisasi. Kenapa? karena presentasi ada batasan waktu dan memiliki struktur yang jelas. Kalau ini tidak masuk perencanaan, bisa-bisa membuat lama presentasi Anda dan merusak struktur presentasi Anda.
Kecuali untuk humor, bagi Anda yang memiliki sense of humor tinggi, Anda bisa berimprovisasi kapan saja, menyelipkan joke atau lelucon singat di sela-sela presentasi Anda. Ini tidak akan menganggu waktu dan struktur presentasi. Namun jika Anda memikirkan lelucon yang panjang Anda perlu merencakannya.
3. Ice breaking perlu latihan
Setelah Anda memilih dengan tepat dan sudah merencakan kapan dan dimana ice breaking Anda gunakan dalam presentasi, selanjutnya Anda harus melatihnya. Ini penting supaya Anda bisa natural, menguasai setiap detail dari ice breaking yang akan Anda gunakan.
4. Dalam pelaksanaanya usahakan semua audiens terlibat.
Saat Anda menggunakan ice breaking Anda harus memastikan semua audiens Anda terlibat. Kalau misalnya jumlah audiens Anda besar, Anda bisa buat mereka berkelompok.
Menggunakan games, atau nyanyian dan gerakan mungkin bisa melibatkan audiens, tapi bagaimana jika saya menggunakan humor?
Untuk humor mungkin tidak melibatkan audiens untuk bergerak atau berinteraksi satu sama lain seperti gamas atau nyanyian, tapi harus kita akui humor yang berhasil bisa melibatkan emosi audiens, kalau pun tidak tertawa semuanya, tapi jika berhasil membuat sebagian besar audiens tertawa berarti Anda sudah berhasil.
5. Usakan tidak memakan waktu
Ingat ice breaking yang baik adalah yang dilakukan dengan waktu yang tepat.  Saran saya  lakukan  dalam waktu 5-10 menit saja, jangan terlalu berlebihan.
6. Usahakan sesuai dengan topik yang Anda sampaikan
Dalam public speaking, apapun yang Anda tampilkan idealnya harus sesuai dengan topik. Jadi kalau bisa usahakan ice breaking Anda sesuai dengan topik. Ini memang tidak mudah, maka itu persiapan sangat penting Anda lakukan.
7. Usahakan yang Anda tunjukkan sesuatu yang mengejutkan
Inilah yang paling sulit dan menantang. Membuat ice breaking kejutan tidak mudah. Anda butuh belajar, Anda butuh inovasi dan Anda butuh kreasi.
Demikianlah ulasan sederhana tentang ice breaking. Semoga memberikan manfaat untuk Anda. Sebelum saya akhiri, saya ingin menegaskan kepada Anda bahwa dalam presentasi sebelum Anda berpikir tentang teknik untuk memecahkan kebekuan fokuskan dulu perhatian Anda pada materi presentasi Anda, desain slide presentasiAnda dan teknik pengiriman Anda. Baru setelah itu Anda berpikir tentang ice breaking atau cara lain untuk mendukung kesusksesan presentasi Anda.
Sebenarnya kenapa audiens boring, jenuh, ngantuk, bisa jadi karena materi Anda tidak menarik, tidak terstruktur, dan tidak tepat sasaran. Bisa juga karena slide Anda yang membosankan, Anda sering membaca slide sehingga sering membelakangi audiens. Bisa juga dikarenakana cara pembawaan Andayang garing tidak meyakinkan, bahasa verbal Anda lemah atau  body lenguage Anda yang lemah.
Intinya jika Anda ingin audiens Anda tidak bosan tidak jenuh,  perbaiki keterampilan presentasi Anda secara menyeluruh, bukan hanya pada satu aspek saja. Tidak hanya terbatas pada ice breaking saja, karena sepintar apapun Anda menggunakan teknik pemecah kebekuan jika aspek lain Anda lemah, itu semua tidak ada artinya.
Bagaimana menurut Anda?


TEKNIK MENGUMPULKAN MASSA UNTUK KAMPANYE KESELAMATAN PEJALAN KAKI


Dalam kegiatan kampanye keselamatan jalan, massa merupakan sasaran dari kegiatan. Mereka adalah orang-orang yang hendak diubah perilaku dan pola pikirnya agar menjadi pengguna jalan yang sadar akan keselamatan di jalan. Namun, permasalahan yang ada di masyarakat adalah bahwa mereka cenderung tidak tertarik apabila diajak untuk mengikuti kegiatan kampanye, sosialisasi, atau penyuluhan, khususnya tentang keselamatan jalan. Oleh karena itu, Sangat penting bagi seorang perencana kampanye keselamatan jalan untuk mengetahui bagaimana teknik untuk mengumpulkan massa.

Berikut akan diulas secara singkat tentang beberapa strategi yang dapat digunakan dalam menarik massa.
a.  Strategi Mengumpulkan Massa
Mengumpulkan massa merupakan salah satu cara untuk menyampaikan pesan dengan cepat. Dalam kaitannya dengan mengumpulkan massa, ada 3 (tiga) strategi yang sering dilakukan untuk mengumpulkan dan mendapatkan simpati massa, yaitu :
1)  Strategi Edu-Politik
Strategi ini merupakan cara untuk mengumpulkan massa melalui program-program atau kegiatan pendidikan. Di dalam program-program tersebutlah pesan disampaikan secara halus dan cenderung disampaikan secara tersirat.
2)  Strategi Merayu
Stretegi ini bersifat sangat persuasif terhadap massa yang akan dikumpulkan. Sebelumnya, karakteristik massa dipelajari untuk mengetahui apa yang massa pada saat itu butuhkan, biasanya terkait dengan kebutuhan ekonomi namun tidak menutup kemungkinan untuk kebutuhan yang lain. Selanjutnya, pesan-pesan ajakan disampaikan dengan menawarkan sesuatu yang bermanfaat sehingga massa tergerak untuk mengikuti pesan-pesan ajakan yang disampaikan.
3)  Strategi Lumpur Kotor
Seperti namanya, strategi ini merupakan cara yang “kotor” untuk mengumpulkan dan mendapatkan simpati massa. Strateginya yaitu dengan menyebar isu-isu negatif terhadap satu atau lebih persoalan terkait dengan tujuan penyampaian pesan kepada massa, sehingga massa tergerak untuk meninggalkan hal-hal yang dianggap negatif dan tergerak untuk mengikuti tujuan dari pesan yang disampaikan.

b.  Contoh Kegiatan
Contoh-contoh kegiatan berikut ini merupakan bentuk konkret dari teknik mengumpulkan massa, sedangkan 3 strategi yang telah disebutkan sebelumnya merupakan cara untuk mendapatkan simpati massa yang dapat dilakukan dalam kegiatan apapun. Berikut ini adalah beberapa contoh kegiatannya:
1)     Seminar
2)     Perlombaan Karya Tulis
3)     Perlombaan Olah Raga dan Seni
4)     Kegiatan Keagamaan
5)     Kegiatan Sosial
6)     Perayaan Hari Jadi
7)     Bazar
8)     Open House
9)     Seni dan Hiburan
10) Blusukan

Berkaitan dengan beberapa strategi yang telah dijelaskan tersebut, kaitannya dengan perencanaan kampanye keselamatan pejalan kaki, strategi merayu dapat dipilih sebagai cara untuk mendapatkan simpati massa. Salah satu kegiatan yang relevan dengan pejalan kaki adalah lomba jalan sehat. Di dalam perlombaan jalan sehat, terdapat doorprize yang akan diberikan kepada peserta. Hal tersebut dapat menjadi media perayu agar masyarakat tertarik untuk mengikuti kegiatan jalan sehat yang pada hakikatnya adalah kampanye keselamatan pejalan kaki.

Hal lain yang harus diperhatikan dalam memperoleh massa untuk menjadi peserta kampanye keselamatan jalan adalah kelompok menentukan massa yang akan menjadi sasaran kegiatan kampanye keselamatan jalan. Penentuan kelompok massa tersebut nantinya akan menjadi dasar pengambilan keputusan untuk menghadirkan jenis doorprize apa saja yang akan diberikan kepada peserta.


Hadirnya doorprize merupakan magnet bagi para peserta. Namun, yang menjadi kendala untuk menyediakan doorprize adalah biaya, sebab tidak mungkin semua peserta akan mendapatkan doorprize. Oleh karena itu, hal tersebut perlu disiasati untuk menekan biaya yang dikeluarkan, tetapi kegiatan harus tetap menarik. Undian merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan atau melalui media permainan (Games). Dengan jumlah doorprize yang terbatas namun memiliki nilai jual yang tinggi akan mempengaruhi seberapa banyak massa yang akan dikumpulkan. Dengan kata lain, masyarakat diiming-imingi mendapatkan doorprize agar mau mengikuti kegiatan kampanye keselamatan pejalan kaki. Inilah strategi merayu.

source: http://kuliah-ktj.blogspot.co.id/2017/02/teknik-mengumpulkan-massa-untuk.html

Evaluasi Kegiatan Penyuluhan Penggunaan Helm SNI di SMK

Pada kiriman sebelumnya telah dijelaskan dengan cukup komprehensif mengenai pelaksanaan kegiatan penyuluhan penggunaan helm SNI bagi siswa-siswi SMK, yaitu di SMK Muhammadiyah Kramat, Kabupaten Tegal. Untuk kiriman kali ini, akan dibahas mengenai evaluasi dari kegiatan penyuluhan yang telah dilaksanakan tersebut. Dengan melakukan evaluasi, akan dapat diketahui hasil dari penyuluhan yang telah dilakukan, apakah terdapat perubahan dari kondisi sebelumnya atau tidak.

Pembahasan tentang evaluasi kegiatan penyuluhan ini akan dibagi ke dalam 4 (empat) bagian, antara lain: metode evaluasi, indikator, alat ukur, dan hasil pengukuran.

Metode

Evaluasi kegiatan merupakan bagian yang harus ada dalam pelaksanaan satu kegiatan. Dengan melakukan evaluasi, tingkat keberhasilan kegiatan dapat diketahui. Tingkat keberhasilan dapat diketahui dengan membandingkan antara tujuan kegiatan dengan hasil yang didapatkan setelah kegiatan dilaksanakan.
Tujuan dari kegiatan penyuluhan di SMK Muhammadiyah Kramat adalah meningkatkan kesadaran para siswa SMK Muhammadiyah Kramat tentang penggunaan helm SNI. Kata yang digunakan adalah meningkatkan, dengan demikian harus diketahui tingkat kesadaran para siswa sebelum dan sesudah dilaksanakan kegiatan penyuluhan. Oleh karena itu, metode yang digunakan adalah metode ­before and after analysis.
Untuk mendapatkan data yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran para siswa, cara yang dilakukan adalah dengan memberikan pre-test sebelum kegiatan dilakukan danpost-test setelah kegiatan dilaksanakan.

Indikator

Tujuan dari kegiatan penyuluhan keselamatan lalu lintas di SMK Muhammadiyah Kramat adalah untuk meningkatkan kesadaran siswa SMK Muhammadiyah Kramat tentang penggunaan helm. Tingkat kesadaran para siswa dapat diukur dengan empat indikator yang biasa dijadikan sebagai tolak ukur kesadaran hukum, antara lain: pengetahuan, pemahaman, sikap, dan pola perilaku. Menggunakan helm SNI merupakan peraturan hukum yang tertuang dalam pasal 106 ayat (8) UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan yang berbunyi:

“Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor dan Penumpang Sepeda Motor wajib mengenakan helm yang memenuhi standar nasional Indonesia”

Dengan demikian, menggunakan empat indikator kesadaran hukum tersebut untuk mengukur tingkat kesadaran penggunaan helm SNI merupakan hal yang relevan untuk dilakukan.

a)      Pengetahuan
Pengetahuan hukum adalah pengetahuan seseorang mengenai beberapa perilaku tertentu yang diatur oleh hukum. Perilaku tertentu yang dimaksud dalam evaluasi ini adalah penggunaan helm SNI  pada saat berkendara dengan sepeda motor. Jadi, indikator penilaian pengetahuan dalam evaluasi ini adalah pengetahuan para siswa tentang dasar hukum penggunaan helm SNI pada saat berkendara dengan sepeda motor.

b)      Pemahaman
Pemahaman hukum diartikan sebagai sejumlah informasi yang dimiliki seseorang mengenai isi peraturan dari satu hukum tertentu. Dengan kata lain, pemahaman hukum adalah satu pengertian terhadap isi dan tujuan satu peraturan dalam hukum tertentu serta manfaatnya bagi pihak-pihak yang kehidupannya diatur oleh hukum tersebut. Terkait dengan penggunaan helm SNI, maka indikator penilaian pemahaman penggunaan helm adalah pemahaman para siswa terhadap isi dan tujuan diwajibkannya menggunakan helm SNI pada saat berkendara dengan sepeda motor.

c)       Sikap
Sikap hukum diartikan sebagai satu kecenderungan untuk menerima hukum karena adanya penghargaan terhadap hukum sebagai sesuatu yang bermanfaat atau menguntungkan jika hukum itu ditaati. Terkait dengan penggunaan helm SNI, maka indikator penilaian sikap terhadap peraturan penggunaan helm SNI adalah kecenderungan atau persepsi para siswa untuk menggunakan helm SNI pada kondisi-kondisi tertentu.

d)      Pola Perilaku
Pola perilaku hukum merupakan hal yang utama dalam kesadaran hukum, karena di sini dapat dilihat apakah satu peraturan berlaku atau tidak dalam masyarakat. Berlaku atau tidaknya hukum tersebut dilihat dari dilaksanakan atau tidak peraturan yang ada, khususnya dalam hal penggunaan helm SNI. Dengan demikian, indikator pola perilaku para siswa adalah tindakan pelanggaran terhadap peraturan hukum yang dilakukan oleh para siswa.

Alat Ukur

Alat evaluasi merupakan instrumen yang digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari penyuluhan yang dilakukan. Dengan alat evaluasi akan dapat diketahui seberapa besar pengaruh dari kegiatan penyuluhan terhadap tingkat pemahaman dan tingkat kesadaran para siswa terhadap peraturan lalu lintas yang ada, khususnya penggunaan helm SNI.
Dalam menentukan alat evaluasi yang akan digunakan, hal yang harus diperhatikan adalah indikator-indikator penilaian yang akan diukur. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam evaluasi ini, digunakan empat indikator kesadaran, yaitu pengetahuan, pemahaman, sikap, dan pola perilaku.
Dengan melihat karakteristik dari masing-masing indikator, maka alat evaluasi yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan kegiatan penyuluhan penggunaan helm SNI pada siswa SMK Muhammadiyah Kramat yaitu kuesioner dan survei pelanggaran penggunaan helm.
  1. Kuesioner
Kuesioner digunakan untuk mengukur indikator pengetahuan, pemahaman, dan sikap para siswa terhadap peraturan menggunakan helm saat berkendara. Indikator pengetahuan dan pemahaman diukur dengan menggunakan pernyataan-pernyataan yang bersifat kognitif (benar/salah). Indikator sikap diukur dengan pernyataan-pernyataan yang bersifat afektif (setuju/tidak setuju).
Di dalam kuesioner ada dua jenis pernyataan, yaitu pernyataan yang bersifat favourable (pernyataan positif) dan unfavourable (pernyataan negatif). Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari responden yang cenderung menjawab tidak pada kondisi sebenarnya, cenderung menjawab benar / setuju namun pada kenyataannya tidak demikian.
Skala pengukuran yang digunakan untuk kuesioner yang akan digunakan adalah Skala Guttman, yang mana setiap pernyataan hanya memiliki dua pilihan jawaban. Dari kuesioner yang diisi oleh responden, akan didapatkan jumlah skor total pada setiap indikator. Jumlah skor tersebut didapatkan dari scoring sebagai berikut:

Tabel 1. Skoring jawaban responden
Jenis Jawaban
Skor
Favourable
Unfavourable
Benar
1
0
Salah
0
1
Setuju
1
0
Tidak
0
1

Tabel 2 menunjukkan blue print dari kuesioner yang akan diberikan kepada responden dalam rangka mengukur tingkat kesadaran para siswa SMK Muhammadiyah Kramat dari aspek pengetahuan, pemahaman, dan sikap terhadap peraturan penggunaan helm SNI.

Tabel 2. Blueprint pengukuran pengetahuan, pemahaman dan sikap
No
Jenis Pernyataan
Pernyataan
Pengukuran Pengetahuan
1
F
Mengenakan helm wajib bagi pengemudi sepeda motor
2
UF
Mengenakan helm tidak wajib bagi penumpang sepeda motor
3
UF
Tidak harus mengenakan helm SNI
4
F
Helm berstandar dinilai dari bentuknya bukan logo terstandarnya


Pengukuran Pemahaman
5
UF
Helm berfungsi untuk melindungi diri dari tilang polisi
6
F
Mengenakan helm melindungi kepala dari benturan saat kecelakaan
7
UF
Mengenakan helm tidak berpengaruh terhadap keselamatan saat terjadi kecelakaan
8
UF
Pemakaian helm dapat digantikan dengan alat lain yang fungsinya sama
9
UF
Helm cukup dikenakan tanpa perlu dikunci (di-klik)


Pernyataan


Pengukuran Sikap
10
UF
Mengenakan helm tidak perlu bagi anak-anak
11
UF
Tidak perlu mengenakan helm saat bepergian jarak dekat
12
UF
Tidak perlu mengenakan helm jika tidak ada polisi
13
F
Lebih baik membeli helm daripada ditilang polisi
14
UF
Helm dengan model keren tanpa SNI lebih baik daripada helm biasa saja tapi SNI
15
UF
Tidak perlu mengenakan helm jika tidak punya


  1. Survei Pelanggaran
Survei pelanggaran penggunaan helm SNI digunakan untuk mengukur secara langsung tingkat kesadaran para siswa dari aspek pola perilaku (konatif) para siswa terhadap peraturan menggunakan helm pada saat mengendarai sepeda motor. Sasaran kegiatan pengamatan ini adalah pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh para siswa SMK Muhammadiyah Kramat. Hasil pengamatan ini adalah data kuantitatif yang menunjukkan jumlah dan persentase pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh para siswa di lokasi pengamatan.
Untuk mencapai hasil yang relevan, pengamatan dapat dilakukan pada jam masuk sekolah atau jam pulang sekolah dan pada saat jam kegiatan belajar mengajar. Pengamatan pada jam masuk/keluar sekolah dapat dilakukan di pintu masuk sekolah dan di depan area sekolah. Sedangkan pengamatan pada jam kegiatan belajar mengajar dapat dilakukan di tempat parkir kendaraan para siswa untuk mengamati secara lebih rinci pelanggaran terkait dengan peraturan teknis kendaraan yang digunakan para siswa.

Hasil Pengukuran

  1. Pengetahuan, Pemahaman, dan Sikap
Setelah dilakukan pengukuran menggunakan kuesioner terhadap 50 responden dari siswa SMK Muhammadiyah Kramat peserta ekstrakulikuler Hizbul Wathan didapatkan skor hasil pengukuran sebagaimana dijelaskan pada tabel 5.3. Hasil pengukuran menunjukkan adanya peningkatan total skor antara sebelum penyuluhan (646) dengan setelah penyuluhan (675) sebesar 29 poin atau 0,04 %. Dari ketiga aspek yang diukur, baik aspek pengetahuan, pemahaman, maupun sikap, semuanya mengalami peningkatan. Tingkat pengetahuan para siswa naik 7 poin (0,04%), tingkat pemahaman para siswa naik 8 poin (0,06%), dan nilai sikap para siswa naik 15 poin (0,06%).

Tabel 3. Skor hasil pengukuran kuesioner
No
Indikator
Skor
Prosentase Peningkatan
Before
After
1
Pengetahuan
160
167
0,04 %
2
Pemahaman
217
225
0,04 %
3
Sikap
269
284
0,06 %
TOTAL SKOR
646
675
0,04 %

Dari ketiga aspek yang diukur, skor sikap para siswa SMK Muhammadiyah Kramat mengalami kenaikan yang paling tinggi dibandingkan aspek yang lain. Hal ini menjadi indikasi bahwa pengetahuan dan pemahaman para siswa terhadap peraturan penggunaan helm SNI sebelum penyuluhan sudah tinggi. Para siswa sudah mengetahui dan memahami tentang peraturan dan untuk apa peraturan tersebut dibuat. Tetapi, sikap positif para siswa terhadap peraturan tersebut belum menunjukkan nilai yang setingkat dengan pengetahuan dan pemahaman para siswa. Terbukti setelah dilakukan penyuluhan, sikap para siswa terhadap peraturan penggunaan helm SNI naik sebesar 15 poin (0,06%).

  1. Pola Perilaku
Pola perilaku para siswa terhadap peraturan penggunaan helm SNI didapatkan dengan melakukan survei di pintu gerbang dan tempat parkir SMK Muhammadiyah Kramat. Hasil survei tersebut ditunjukkan grafik pada gambar 1.
Gambar 1. Hasil survei pelanggaran lalu lintas sebelum penyuluhan

Berdasarkan hasil survei, diketahui ada 5 (lima) jenis pelanggaran yang dilakukan selama survei dilakukan. Pelanggaran penggunaan helm tercatat ada 114 siswa yang melanggar dari 274 pelanggaran yang dilakukan siswa yang menggunakan sepeda motor, terdiri dari 106 pelanggaran tidak menggunakan helm SNI dan 8 pelanggaran penggunaan helm non-SNI.
Setelah penyuluhan, survei kembali dilakukan. Survei pasca penyuluhan tidak seperti survei pra penyuluhan. Apabila survei pra-penyuluhan dilakukan untuk mengetahui jenis pelanggaran apa saja yang dilakukan, maka survei pasca-penyuluhan dilakukan hanya difokuskan pada pelanggaran yang menjadi materi penyuluhan keselamatan, yaitu tentang penggunaan helm SNI.
Berdasarkan hasil survei pasca-penyuluhan pada penggunaan helm di SMK Muhamadiyah Kramat, didapatkan adanya penurunan jumlah pelanggaran sebesar 20%. Dari yang sebelumnya ada 106 siswa yang tidak menggunakan helm dan 8 siswa yang menggunakan helm non-SNI, setelah dilakukan penyuluhan, didapatkan ada 86 siswa yang melakukan pelanggaran penggunaan helm, semuanya tidak menggunakan helm dan tidak didapati siswa yang menggunakan helm non-SNI seperti sebelum dilakukan penyuluhan.

Kesimpulan

Dengan dilaksanakannya rangkaian kegiatan penyuluhan yang dimulai dari proses identifikasi massa dan diakhiri dengan kegiatan penyuluhan sampai dengan evaluasi kegiatan, kesimpulan yang dapat diambil antara lain:
a)   Berdasarkan hasil identifikasi, pelanggaran lalu lintas yang paling banyak dilakukan oleh siswa/siswi SMK Muhammadiyah Kramat adalah tidak menggunakan helm SNI.
b)  Pelanggaran tidak menggunakan helm bukan karena para siswa tidak mengetahui peraturan, melainkan karena tingkat kesadaran yang rendah, sehingga penyuluhan dilakukan dengan bertujuan meningkatkan kesadaran para siswa/siswi melalui kegiatan Hizbul Wathan.
c)  Model penyuluhan dengan metode pendekatan kelompok terbukti efektif digunakan untuk menyampaikan materi kepada para siswa/siswi dengan karakteristik siswa SMK yang cenderung sulit untuk diatur.
d)  Secara umum, kegiatan penyuluhan telah meningkatkan kesadaran para siswa/siswi SMK Muhammadiyah dalam hal kewajiban penggunaan helm SNI bagi pengendara sepeda motor.

source: http://kuliah-ktj.blogspot.co.id/2017_01_01_archive.html